Penulis : Ustadzah Anik Sriani, S.Pd
Terkadang cinta tumbuh begitu saja, tak mustahil anak yang satu lebih kita cintai dari yang lain. Bagaimana mengelolanya?
Nabi Yusuf adalah seorang putra dari dua belas anak Nabi Ya’qub. Ia dikaruniai Allah SWT rupa yang bagus, paras yang tampan, dan tubuh yang tegap. Yusuf Adalah anak yang disayang oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.
Sikap Nabi Ya’qup yang lebih menyanyangi Yusuf dari anak-anaknya yang lain telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki diantara saudara-saudara Yusuf yang lain. Mereka merasakan bahwa mereka dianak-tirikan oleh ayahnya. Rasa jengkel mereka terhadap ayahnya dan iri-hati terhadap Yusuf membangkitkan rasa setia kawan, persatuan dan persaudaraan antara saudara-saudara Yusuf.
Dalam pertemuan rahasia yang mereka adakan untuk merundingkan nasib yang mereka alami dan mengatur aksi yang harus mereka lakukan untuk menyadarkan ayahnya, menuntut perlakuan yang adil.
Pertemuan itu menyepakati bahwa Yusuf harus dibuang. Begitulah petikan kisah Nabi Yusuf as. Meski akhir dari kisah ini adalah kebahagiaan. Mereka dipertemukan kembali dalam keadaan iman setelah melalui proses yang panjang dan penuh cobaan.
Cinta memang sesuatu yang unik, bisa datang dan pergi begitu saja. Faktanya anak dalam keluarga kita memiliki fisik dan kemampuan intelektual serta perilaku yang berbeda. Bisa jadi kita lebih mencintai salah satu anak, dikarenakan pada waktu mengandungnya keadan ekonomi masih sulit sehingga kita mencurahkan cinta yang lebih kepadanya. Atau bisa juga sebaliknya, setelah anak lahir ekonomi keluarga membaik, sehingga dianggap anak membawa keberuntungan. Semua bisa mendatangkan cinta dan benci sekaligus.
Mengelola rasa cemburu anak dalam keluarga dapat dilakukan dengan memberikan perhatian yang adil, mendengarkan perasaan mereka, serta menghindari perbandingan antar-saudara. Berikut adalah beberapa tips praktis untuk mengatasi dan mengelola rasa cemburu anak:
1. Validasi dan kenali emosi anak
– Terima perasaannya: Jangan memarahi atau melarang anak saat ia merasa cemburu, dengarkan unek-unek anak dan bantu ia mengenali emosinya.
– Katakan bahwa itu wajar: Beritahu anak bahwa merasa cemburu adalah hal yang normal dirasakan oleh siapa saja, termasuk dirinya.
2. Luangkan waktu khusus (Quality Time)
– Perhatian individual: Sediakan waktu khusus tanpa gangguan untuk masing-masing anak.
– Fokus penuh: Saat bersama anak tertentu, letakkan gawai dan berikan fokus penuh agar ia merasa tetap disayangi dan tidak tersisih.
3. Hindari perbandingan
– Fokus pada keunikan: Puji setiap anak atas usaha dan karakter unik mereka sendiri.
– Jangan membandingkan: Hindari membandingkan kemampuan, sifat, atau perilaku anak satu dengan saudaranya karena hal ini bisa memicu rasa tidak aman (insecure) dan memperuncing kecemburuan.
4. Libatkan anak dalam perawatan saudara
– Beri peran positif: Jika cemburu disebabkan oleh kehadiran anggota keluarga baru (adik), libatkan anak dalam persiapan atau perawatan adik dengan tugas yang aman
– Berikan apresiasi: Ucapkan terima kasih dan puji saat anak menunjukkan sikap baik kepada saudaranya.
5. Jangan selalu menuntut kakak mengalah
– Bersikap adil: Hindari kebiasaan selalu meminta anak yang lebih tua untuk mengalah dalam segala situasi.
– Dengarkan kedua belah pihak: Saat terjadi konflik antar-saudara, cari tahu akar masalahnya secara objektif, tidak langsung menyalahkan anak yang lebih besar.
Cemburu dalam keluarga memang sesuatu yang tidak bisa kita dihindarkan, dan sebagai orangtua kita berupaya bersikap adil kepada mereka. Mudah-mudahan kita bisa mengelolanya dengan baik. Sehingga yang datang adalah rahmat Allah dan bukan sebaliknya.