September 22, 2026 12:11

Ketika Kekuasaan Menjadi Tujuan : Renungan Tentang Penguasa yang Berkuasa
September 17, 2026

Penulis :

KB-TK Islam Terpadu Al Uswah Tuban
Unit/jenjang TKIT

Penulis : Ustadzah Heti Susanto, S.Pd

Renungan tentang Penguasa yang berkuasa

Kekuasaan pada hakikatnya bukanlah kemuliaan yang boleh dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Seorang pemimpin diberi kewenangan bukan agar dapat berbuat sesuka hati, tetapi agar mampu melindungi, melayani, dan membawa orang-orang yang dipimpinnya menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun, ketika kekuasaan mulai menjadi tujuan, seorang penguasa dapat terjebak dalam keinginan untuk selalu menang, selalu dibenarkan, dan tidak mau menerima kritik. Kepentingan rakyat perlahan dapat tergeser oleh kepentingan pribadi, kelompok, atau lingkaran kekuasaan.

Kekuasaan Bukan Milik Pribadi

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini mengingatkan bahwa keadilan merupakan salah satu prinsip utama dalam kehidupan. Penguasa tidak boleh menjadikan jabatan sebagai alat untuk menguntungkan diri sendiri ataupun membungkam pihak yang berbeda pandangan.

Seorang pemimpin boleh memiliki keputusan yang tegas. Akan tetapi, ketegasan berbeda dengan kesewenang-wenangan. Ketegasan lahir dari pertimbangan yang matang dan aturan yang adil, sedangkan kesewenang-wenangan muncul ketika seseorang merasa bahwa kekuasaannya membuat dirinya tidak perlu mendengarkan orang lain.

Ketika Kritik Dianggap Sebagai Ancaman

Salah satu tanda yang patut diwaspadai dalam sebuah kekuasaan adalah ketika kritik dianggap sebagai musuh.

Padahal, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab dapat menjadi cermin bagi seorang pemimpin. Tanpa kritik, seorang penguasa dapat terjebak dalam lingkungan yang hanya mengatakan “iya”, sementara kesalahan tidak pernah disampaikan.

Pemimpin yang bijaksana tidak selalu mencari orang yang membenarkannya. Ia juga membutuhkan orang yang berani mengatakan bahwa sebuah keputusan perlu diperbaiki.

Karena itu, keberadaan nasihat dan kritik bukanlah tanda bahwa kepemimpinan gagal. Justru, kemampuan menerima nasihat merupakan bagian dari kematangan seorang pemimpin.

Jangan Sampai Kekuasaan Melahirkan Kesombongan

Allah SWT mengingatkan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”
(QS. An-Nahl: 23)

Jabatan dapat berubah. Kekuasaan dapat berpindah. Orang yang hari ini berada di atas, suatu saat dapat berada di bawah. Karena itu, seorang penguasa hendaknya menyadari bahwa kekuasaan manusia pada akhirnya memiliki batas.

Sehebat apa pun seorang pemimpin, ia tetap manusia. Ia dapat salah dalam mengambil keputusan, keliru dalam menilai keadaan, dan membutuhkan masukan dari orang lain.

Kebesaran seorang pemimpin bukan terlihat dari seberapa banyak orang takut kepadanya, tetapi dari seberapa besar keadilan dan kemaslahatan yang lahir dari kepemimpinannya.

Penguasa Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memiliki pesan yang sangat dalam. Kekuasaan bukan sekadar kesempatan untuk memberikan perintah. Kekuasaan adalah tanggung jawab yang kelak akan dipertanyakan.

Apa yang dilakukan terhadap orang yang lemah?
Bagaimana keputusan dibuat?
Apakah keadilan ditegakkan?
Apakah rakyat didengar?
Apakah jabatan digunakan untuk kepentingan bersama atau kepentingan pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi pertanyaan manusia, tetapi juga menjadi pertanyaan di hadapan Allah SWT.

Menang Tidak Selalu Berarti Benar

Ada penguasa yang mungkin mampu memenangkan perdebatan, memenangkan suara, memenangkan pertarungan politik, atau mempertahankan kedudukannya. Tetapi kemenangan kekuasaan tidak otomatis berarti kemenangan kebenaran.

Kebenaran tidak ditentukan hanya oleh siapa yang memiliki jabatan paling tinggi.

Dalam kehidupan, seorang pemimpin hendaknya mampu membedakan antara “saya berkuasa” dan “saya benar”. Kekuasaan memberikan kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi tidak memberikan jaminan bahwa setiap keputusan pasti benar.

Justru semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa keputusan yang dibuat tetap berpijak pada keadilan, aturan, dan kemaslahatan.

Pemimpin yang Baik Tidak Takut Kehilangan Ego

Pemimpin yang matang akan mampu mengatakan:

“Saya bisa salah.”

Kalimat sederhana tersebut bukan kelemahan. Sebaliknya, itu merupakan bentuk kerendahan hati.

Pemimpin yang mau mendengar, mau mengevaluasi, dan mau memperbaiki kesalahan akan memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi. Sebaliknya, apabila semua keputusan hanya berpusat pada keinginan satu orang dan setiap perbedaan dianggap sebagai pembangkangan, maka kekuasaan berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana pelayanan.

Penutup

Kekuasaan adalah ujian. Ada orang yang ketika mendapatkan kekuasaan menjadi semakin rendah hati, semakin adil, dan semakin dekat kepada rakyat. Namun ada pula yang ketika mendapatkan kekuasaan justru merasa dirinya tidak boleh dibantah.

Padahal, kekuasaan tidak pernah abadi.

Jabatan akan berakhir. Kedudukan akan berganti. Kekayaan akan ditinggalkan. Dan pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT.

Karena itu, seorang penguasa hendaknya tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk selalu menang sendiri. Jadikanlah kekuasaan sebagai jalan untuk menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, mendengar suara masyarakat, dan menghadirkan kemaslahatan.

Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya berapa lama ia berkuasa, tetapi seberapa amanah ia menggunakan kekuasaannya dan seberapa banyak kebaikan yang ditinggalkannya setelah kekuasaan itu berakhir.

TAGS

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Terkini

September 22, 2026

Populer