Februari 15, 2026 12:07

MODEL PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PROGRAM BANK SAMPAH DESA TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO
June 13, 2024

Penulis :

MENTARY PUTRI KUSAINI, S.SOS
Unit/jenjang SMAIT

PENDAHULUAN
Pemahaman terhadap lingkungan tidak sekedar berlaku pada masyarakat kota namun pada masyarakat desa pula, banyak pula masyarakat yang mengolah ulang limbah-limbah rumah tangga yakni sampah non-organik akan  menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, inilah yang terjadi pada masyarakat desa Trawas, Kabupaten Mojokerto yang membuat program Bank Sampah, partisipasi masyarakat cukup tinggi, namun memang tidak sedikit pula masyarakat yang acuh tak acuh terhadap program yang digagas Ketua RW 03 melalui organisasi lingkungan hidup. Minimnya kesadaran masyarakat terhadap lingkunan yang memang lebih menekankan nilai budaya lokal menjadi panutan sebagian masyarakat desa. Maka dari itu perlu adanya membuka kesadaran bagi setiap masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan, yang nantinya hal tersebut mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap generasi-generasi yang akan datang.

Hal tersebut tidak luput dari adanya budaya patriarki yang telah mendarah-daging pada masyarakat Indonesia terutama masyarakat pedesaan, tentunya dominasi laki-laki terhadap perempuan juga tinggi sehingga peran perempuan dalam ruang publik terbatasi. Dimulai dengan munculnya gerakan feminism liberal yang mengajukan solusi untuk menyelesaikan  permasalahan pembangunan, yaitu menghentikan marginalisasi perempuan dengan memperjuangkan perubahan hukum dan peraturan yang memungkinkan bagi perempuan untuk memiliki akses dan kontrol yang sama terhadap pekerjaan dan imbalan ekonomi.(Mansour:2009)

Banyak perempuan desa yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami penindasan dari kaum laki-laki, terbukti dari tingginya aktivitas rumah tangga yang dilimpahkan pada kaum perempuan membuat dirinya tereksploitasi dalam rumah tangga. Setelah menjalani kegiatan di sektor publik lalu menapaki kegiatan pada sektor domestik. Apakah semua peran rumah tangga dibebankan pada perempuan? dalam budaya patriarki tentunya iya, namun berbeda dalam kehidupan bermasyarakat, pastilah ditentukan pada masing-masing peran yang dilakoninya.

Munculnya program bank sampah yang merupakan sebagai pemberdayaan terhadap masyarakat Desa Trawas RW 03, secara tidak langsung program tersebut ditujukan pada kaum perempuan walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa program tersebut ditujukan pula pada kaum laki-laki. Perempuan desa yang sebagaian besar menjadi seorang ibu rumah tangga merupakan sasaran utama, karena ibu rumah tangga yang memiliki aktivitas terhadap kegiatan rumah tangga terkait memasak, mencuci pakaian, merawat anak. dll. tentunya sebagaian besar limbah rumah tangga dihasilkan oleh aktivitas ibu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Program ini tentunya akan membuat pihak-pihak terkait sadar akan keadaan lingkungan yang mereka singgahi, keikutsertaan perempuan dalam hal ini juga membawa dampak positif terkait penyetoran sampah non-organik tentu tidak ada ruginya bagi ibu rumah tangga, dan hal tersebut mampu mendukung ekosistem yang ada dan pula nantinya sampah-sampah non-organik mampu diolah kembali menjadi pernak-pernik maupun dijual. Sedangkan sampah organik tidak menjadi kendala yang berarti.

          Kegiatan tersebut mampu menjadi sektor publik perempuan, sehingga perempuan merasa tidak terbatasi oleh budaya patriarki yang telah ada, tidak hanya kebebasan yang didapat adapun kegiatan-kegiatan lainnya seperti lomba-lomba yang diselenggarakan oleh sebagaian besar kaum perempuan, walaupun ada kaum laki-laki yang berpartisipasi hal ini tidak menjadi masalah antar gender. Pemberdayaan yang diadakan membawa perubahan kecil terhadap peran laki-laki dan perempuan, sehingga masyarakat peka terhadap peran ruang publik bagi perempuan, adanya kegiatan yang mendukung peran-peran perempuan terhadap kepedulian lingkungan yang nantinya akan memberikan dampak terhadap ekosistem. Perempuan yang lebih aktif dalam kegiatan rumah tangga dan mereka aktif pula pada kegiatan lingkungan, hal tersebut menjadi seimbang antara limbah yang dihasilkan pada kegiatan rumah tangga dan tanggung jawab mengurangi dampak lingkungan seperti pemilahan dan penyetoran sampah yang dilakukan

Penelitian ini menggunakan konsep model pemberdayaan bottom-up. Dilihat dari proses dan mekanismenya perumusan program pembangunan masyarakat,pendektan pemberdayaan cenderung menggunakan alur dari bawah ke atas. Dalam hal ini perumusan program yang akan dilaksanakan ditentukan oleh identifikasi masalah dan kebutuhan dari dan oleh masyrakat sendiri. Sehubungan dengan hal ini proses dan mekanisme perumusan program pembangunan masyarakat dapat melalui dua kemungkinan. Pertama, identifikasi            masalah dan kebutuhan dari masyarakat tersebut kemudian direspon oleh masyarakat yang bersangkutan dalam bentuk program pembangunan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat sendiri. Dengan demikian melalui mekanisme jenis yang pertama ini dapat dikatakan bahwa proses pembangunan masyarakat berasal dari, oleh dan untuk masyarakat. Dilihat dari pemikiran yang menempatkan masyarakat sebagai subyek pembangunan, sebetulnya model ini yang paling ideal karena menggambarkan kapasitas masyarakat dalam mengelola masa depannya. Model ini juga terjadi melalui proses belajar sambil menyesuaikan dinamika kehidupan dan lingkungan yang berkembang. Dengan demikian proses ini lebih teruji. Disamping itu, melalui proses ini terbentuk pola tindakan bersama yang melembaga dan masyarakat juga dapat memperoleh pengetahuan serta kearifan lokal. Yang kedua, identifikasi masalah dan kebutuhan dari bawah ini kemudian diakomodasi oleh pemerintah baik daerah maupun pusat dalam hal ini dinas-dinas terkait, untuk dimasukan sebagai mata program dalam perencanaan pembangunan.(Soetomo:2011)

Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik menjadi rumusan masalah yakni: Bagaimana model pemberdayaan perempuan melalui program Bank Sampah di Desa Trawas Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mengidentifikasi model pemberdayaan perempuan melalui progam Bank Sampah di Desa Trawas Kabupaten Mojokerto

METODE

Penelitian ini secara metodologi menggunakan model penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan. Secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Lexy, 2009:6). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan PRA menekankan bahwa masyarakat sasaran memiliki kemampuan untuk melakukan kontrol bahkan mengubah program yang telah dikeluarkan oleh para perencana pembangunan.

Penelitian ini akan dilaksanakan setelah proposal pengajuan penelitian ini disetujuai. Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah Desa Trawas RW3. Alasan mengapa peneliti memilih RW 3 karena tempat kegiatan bank sampah ini terletak di RW 3 dan nasabah yang paling banyak terdapat di RW 3. Selama penelitian tercatat 4 kali peneliti berkunjung ke Desa Trawas. Setiap berkunjung kurang lebih 6 jam peneliti menghabiskan waktu di lokasi penelitian untuk melakukan wawancara. Pada kunjungan pertama, peneliti mendatangi rumah Bapak Sisyantoko sebagai pendiri LSM Wi-Hasta dan penggagas program Bank Sampah di Desa Trawas RW 3.Kunjungan kedua, di basecamp LSM Wi-Hasta yakni LSM pendamping Bank Sampah Bersehri. Kunjungan ketiga, peneliti melakukan wawancara di rumah ibu Indah. Disini peneliti mewawancari pengurus dan nasabah dari Bank Sampah. Kunjungan ke empat berada dirumah mas Trimul untuk pengambilan data.

Subyek dalam penelitian ini adalah sesuai dengan pokok permasalahan, yaitu Masyarakat Desa Trawas. Pencarian Subjek penelitian menggunkan teknik snowball atau dilakukan secara berantai dengan meminta informasi pada orang yang telah diwawancarai atau dihubungi sebelumnya, demikian seterusnya. Dalam penelitian kualitatif, snowball adalah salah satu metode yang paling umum digunakan. Melalui teknik snowbal subjek atau sampel dipilih berdasarkan rekomendasi orang ke orang yang sesuai dengan penelitian dan adekuat unutk diwawancarai. Pertama tim peneliti akan mencari key-informan. Informan kunci disini adalah ketua RW 3 Desa Trawas sebagai penggagas program Bank Sampah di Desa tersebut. Kemudian peneliti akan meminta rekomendasi informan selanjutnya untuk dapat dimintai informansi mengenai pertisipasi masyarakat terkait adanya program Bank Sampah di Desa Trawas tersebut. Hasil sementara dari rekomendasi oleh Ketua RW 3 Desa Trawas untuk informan selanjutnya adalah Mas Trimul selaku ketua We-Hasta LSM pendamping dari program Bank Sampah, selanjutnya Pengurus Program Bank Sampah dan Nasabah Bank Sampah.

Berdasarkan analisis model Miles dan Huberman, analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus, sehingga datanya sudah jenuh. Aktifitas dalam analisis data, yaitu  reduksi data, display atau penyajian data dan mengambil kesimpulan lalu diverifikasi. Sugiyono (2010: 63) menyatakan pada penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta wawancara mendalam dan dokumnetasi. Mengacu pada pengertian tersebut, peneliti mengartikan teknik pengumpulan data sebagau suatu cara untuk memperoleh data melalui beberapa langkah atau tahapan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Pertama, peneliti akan melakukan observasi terlebih dahulu yakni dengan berkunjung ke desa Trawas dan melihat aktifitas yang berkaitan dengan program bank sampah yang ada di desa tersebut. Dalam kegiatan observasi ini, peneliti mencari informan kunci untuk dapat diwawancarai dan memberikan rekomendasi untuk calon informan selanjutnya.

Kedua, setelah melakukan observasi peneliti menyusun daftar pertanyaan sebagai bahan rujukan untuk proses wawancara. Wawancara akan dilakukan secara in-dept dengan cara door to door atau mengunjungi setiap informan yang sudah ditentukan dan sudah direkomendasikan oleh key-informan sebagai informan selanjutnya agar data yang didapat akurat. Wawancara juga dilakukan pada saat kegiatan transaksi nasabah di Bank Sampah. Pada saat wawancara peneliti menggunakan bantuan alat perekam agar memudahkan peneliti dalam merekap data yang didapat selama wawancara. Dalam proses observasi dan wawancara peneliti juga tidak lupa untuk mendokumentasikan hasil dari observasi dan wawancara tersebut, baik dalam bentuk gambar, video atau rekaman suara. Hal ini sangat dibutuhkan oleh peneliti untuk mendukung data – data yang didapat selama melakukan penelitian. Untuk data sekunder peneliti menggunakan data Nasabah Bank Sampah dan data jumlah penduduk per kepala keluarga RW 3 Desa Trawas serta data – data yang terkait dengan program Bank Sampah seperti slide show tentang Sistem Bank Sampah.

Tiga tahap analisis, penjelasan sebagai berikut: Pertama, reduksi data merupakan proses pengumpulan data penelitian, seorang peneliti dapat menemukan kapan saja waktu untuk mendapatkan data yang banyak, apabila peneliti mampu menerapkan metode observasi, wawancara atau dari berbagai dokumen yang berkaitan dengan subjek yang diteliti (Iskandar, 2010:223).

Kedua, display atau penyajian data. Data yang telah diperoleh tidak langsung dipaparkan secara keseluruhan namun harus dipilah-pilah sesuai dengan kebutuhan fokus penelitian. Peneliti dapat melakukan penyajian data penelitian agar dapat dianalisis dengan cara menyusun secara sistematis sehingga data yang diperoleh dapat menjelaskan dan menjawab masalah yang diteliti. Hasil data penelitian tersebut dituangkan kedalam field note, kemudian peneliti memilih atau mengedit data yang berkaitan dengan fokus penelitian  dalam bentuk temuan data.

Ketiga, mengambil kesimpulan merupakan analisis lanjutan dari reduksi data dan display data sehingga data dapat disimpulkan.Selanjutnya, ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan metode triangulasi. Metode ini dapat ditempuh dengan beberapa langkah, yaitu: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (2) membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi, (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan, (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Dan tahap terakhir setelah tahap-tahap tersebut adalah tahap penafsiran data yaitu mengkritisi teori dari data yang ada sesuai dengan tinjauan teori yang telah diberikan (Lexy, 2006:330).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berangkat dari model pembangunan Bottom-up yang sejatinya merupakan pembangunan yang bersifat partisipasi masyarakat terkait perencanaan-perencanaan yang telah diusulkan oleh beberapa pihak demi membangun dan mengembangkan apa yang menjadi sebuah kebutuhan masyarakat. Bank Sampah yang telah menjadi pemberdayaan pertama dan telah dilakukan oleh masyarakat Desa Trawas yang berkaitan dengan partisipasi warga untuk mengurangi jumlah sampah yang dianggap merusak lingkungan. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat bahwa dengan adanya kegiatan tersebut timbul beberapa kreatifitas masyarakat. dengan membangun mental dan pastisipasi tentunya, hal ini diharapkan mampu membuka dan menjadi modal untuk pembangunan.

Dengan proses belajar yang lebih terbuka membuat masyarakat tidak menutup mata terkait apa yang dibutuhkan dan apa yang menjadi keinginan bersama. Partisipasi tidak mengikat semua masyarakat dan mencoba untuk meningkatkan kesetaraan antar gender pada masyarakt desa. Sehingga lebih leluasa untuk menyampaikan usulan-usulan baru yang memang menjadi sebuah potensi bersama. Program Bank Sampah memang tidak bias gender namun pada kenyataannya lebih diutamakan pada partisipasi perempuan desa yang sebagian besar menjadi ibu rumah tangga, yang bekerja penuh pada sektor domestik. Berawal dari sosialisasi pertama program tersebut yang ikut dalam kegiatan ibu-ibu PKK, hal ini membuat dan membentuk bahwa program tersebut menjadi sebuah program pemberdayaan perempuan.

Limbah rumah tangga sebagai besar dihasilkan karena kegiatan dari sektor domestik. Terbukti dengan adanya sampah-sampah organik maupun anorganik yang dihasilnya, mulai dari sampah plastik, kertas, maupun sampah dari hasil olahan makanan. Dengan adanya Bank Sampah maka mereka lebih diperuntukkan untuk memahami lingkungan, sehingga mereka memiliki kegiatan lain yakni memilih sampah yang mampu didaur ulang maupun yang bisa menjadi sebuah keuntungan. Bank Sampah diadakan juga bukan karena faktor sampah pula, ada juga karena faktor tidak adanya peran perangkat desa mengatasi masalah sampah yang dihasilkan sehingga timbulah kegiatan tersebut dan didampingi oleh LSM yang bergerak pada bidang lingkungan yakni We-Hasta.

Setelah berjalan cukup lama, timbulah potensi-potensi lainnya yang memacu masyarakat untuk berkembang, selain mengurangi sampah adapula yang mengolah maupun menjual untuk mendapatkan keuntungan, hal ini juga sebagai hasil pembangunan dari Program Bank Sampah yang telah ada. Muncul ide-ide kreatif dari masyarakat, namun sayang hal tersebut juga tidak didukung beberapa masyarakat terkait minimnya modal yang dimiliki, namun hal tersebut tidak menyurutkan potensi beberapa warga yang ingin membangun kembali dari hasil selama mengikuti kegiatan Bank Sampah tersebut, yakni mengolah beberapa sampah plastik maupun kertas menjadi sebuah kerajinan tangan seperti membuat Baju-baju dari bahan sampah anorganik. Dengan menyebut Trashion mereka mampu mengubah limbah menjadi keuntungan yang mampu menarik beberapa minat masyarakat lainnya untuk ikut berkecimpung dan tidak membatasi minat warga lainnya. Memang hal tersebut menjadi wajar ketika yang memiliki ide-ide kreatif tersebut didominasi oleh perempuan yang sejatinya lebih berperan aktif dalam kegiatan Bank Sampah. Dan secara langsung bahwa hal itu membuktikan adanya bias gender terhadap objek pemberdayaan yang dilakukan.

Melihat konteks tersebut, tentunya pembangunan lebih diarahkan kepada para perempuan yang kurang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, melalui identifikasi yang awalnya penglolaan sampah belum sepenuhnya terkendali sehingga memunculkan ide Bank Sampah dan membuka ide-ide kreatif lainnya. Dukungan dari pemerintah pun masih kurang, namun tidak jarang pula CSR masuk demi menunjang kegiatan tersebut, seperti Unilever membantu memberi modal yang berupa buku tabungan Bank Sampah.

          Permasalah dalam masyarakat sendiri menjadi sebuah kendala yang harus dihadapi, untuk menemukan solusi bersama, dengan kebutuhan yang sama akan menjadi mudah apabila penggalian potensi didukung oleh pihak-pihak yang memiliki modal besar. Rancangan-rancangan kedepan juga ditentukan soal perealisasi agar mampu membangun potensi yang ada. Dengan kondisi geografis yang mendukung, tentunya menjadi aset utama dan sebagian wilayah didominasi oleh persawahan akan lebih baik bila membuat sebuah pengolahan sampah organik, yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Perlunya komposter yang merupakan alat pengubah sampah organik menjadi sebuah pupuk yang alangkah baiknya bisa digunakan bersama, untuk membantu aktivitas pertumbuhan lingkungan hidup yang ada, maupun taman-taman kecil yang dimiliki oleh warga mampu didesain menjadi desa wisata untuk meningkatkan pendapatan maupun menunjang kebutuhan baik dalam proses memberikan gambaran melek linkungan tidak sekedar berupa mengurangi sampah anorganik. Sebagai bagian sampah organik maupun anorganik mampu mendatangkan sebuah ide-ide kreatif terkait sebagai sumber pembangunan bottom-up.

Berdasarkan analisi diatas, dapat disimpulkan menjadi kategori-kategori sebagai berikut :

1.      Identifikasi Masalah dan Kebutuhan masyarakat

Dalam identifikasi masalah ditemukan permasalah sampah yang sulit untuk dikendalikan, masalah sampah ini berkaitan dengan budaya membuang sampah sembarang seperti di sungai yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Desa Trawas. Melihat hal ini, kemudian masyarakat membutuhkan solusi yang dapat mengelola sampah mereka agar dapat meminimalisir dari kebiasaan membuang sampah di sungai. Solusi pertama yang ditawarkan adalah mencari tukang sampah keliling untuk mengambil sampah rumah tangga setiap hari yang kemudian di buang di tempat pembuangan sampah terakhir. Solusi ini kemudian tidak dapat direalisasikan karena di Desa Trawas tidak terdapat tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Solusi yang kedua adalah pembentukan program Bank Sampah yang digagas oleh ketua RW 03. Program Bank Sampah ini kemudian menjadi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan untuk solusi permasalah sampah.

Dalam menjalankan program Bank Sampah, rekrutment ditujukan pada perempuan yakni ibu-ibu Desa Trawas yang didampingi oleh LSM Wi-Hasta. LSM Wi-Hasta sebagai pendamping program Bank Sampah bertugas untuk mensosialisasikan program Bank Sampah kepada masyarakat, kemudia melakukan training atau pelatihan simulasi berjalannya Bank Sampah pada saat transaksi sampai rekapitulasi. Dari program Bank Sampah ini kemudian muncul potensi-potensi berupa baru yang dapat dikembangkan dengan menfaatkan sampah yang telah dikumpulkan oleh masyarakat dan di setor di Bank Sampah. Ide-ide kreatif tersebut adalah pengelolaan sampah anorganik menjadi kerajinan tangan seperti tudung saji, tas dan hiasaan dinding. Tidak hanya sebagai kerajinan tangan, namun sampah-sampah anorganik tersebut dapat menghasilkan produk yang lain yakni Trashion (Trash and Fashion). Trashion ini adalah kostum yang dapat digunakan pada acara-acara teertentu seperti festifal, pawai kebudayaan atau acara lainnya.

2.      Model Pemberdayaan Perempuan Melalui Pengembangan Produk Trashion

Berawal dari masalah sampah yang terjadi di Desa Trawas, dibentuklah program Bank Sampah sebagai solusi permasalahan sampah. Selama program ini berlangsung muncul ide kreatif dari pengurus dan nasabah bank sampah untuk mengelola sampah menjadi produk yang bernilai ekonomis dengan kemasan yang menarik selain menjual sampah anorganik kepada pengepul. Kemudian, munculah Trashion sebagai produk baru yang mulai banyak pemintanya. Trashion adalah kostum dengan bahan dasar sampah anorganik atau sampah daur ulang yang didesaign sesuai dengan tema yang di pesan oleh pelanggan untuk kebutuhan acara tertentu. Trashion mulai dilirik oleh para penyelenggara acara seperti parade budaya, festival, atau perhelatan akbar lainnya. Melihat mulai banyaknya peminat, Trashion mulai dikembangkan oleh perempuan-perempuan pengurus dan nasabah bank sampah dengan bekerja sama dengan para pemuda dan pemudi untuk dilibatkan ide dan tenaga dalam membuat produk. Trashion sebagai produk baru hasil dari program bank sampah sebagai model pemberdayaan perempuan di Desa Trawas diharapkan mampu meningkatkan kemandirian perempuan dalam beraksi dilingkungan sekitar dan dapat melakukan kegiatan yang produktif. Hal ini sebabkan, para pengurus dan nasabah bank sampah sebagaian besar adalah ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan pengahasilan dari suami untuk pemenuhan kebutuhan.

PENUTUP

Dalam penelitian yang dilakukan di Desa Trawas mengenai model pemberdayaan perempuan melalui program Bank Sampah, hasil yang didapat adalah pertama, masalah yang terjadi di Desa Trawas yakni masalah sampah dengan budaya membuang sampah di sungai dan pekerangan belakang rumah yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Hal ini dikarenakan tidak tersedianya jasa pengakutan sampah keliling dan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Desa Trawas. Permasalah ini kemudian memunculkan ide untuk membentuk program Bank Sampah sebagai salah satu solusi dalam mengatasi masalah sampah. Program Bank Sampah ini lebih ditujukan pada pemberdayaan perempuan Desa Trawas yang sebagian besar tidak mempunyai pekerjaan dalam artian sebagai ibu rumah tangga, sehingga perempuan mempunyai aktifitas yang produkrtif. Kedua, muncul model pemberdayaan dengan pengembangan produk dari olahan sampah anorganik yang telah dikumpulkan di Bank Sampah menjadi Trashion. Trashion merupakan produk hasil olahan sampah anorganik yang didesain menjadi kostum untuk acara tertentu. Pengembangan produk yang dihasilkan dari Bank Sampah menjadi model pemberdayaan perempuan Desa Trawas yang dapat menunjang kemandirian dan kreatifitas serta membuat perempuan lebih melek lingkungan. Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, terdapat saran yang ditujukan kepada masyarakat Desa Trawasa khususnya perempuan pengurus dan nasabah Program Bank Sampah, serta LSM Wi-Hasta dan Pemerintah Desa. Berikut adalah saran yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan model pemberdayaan perempuan Desa Trawas :

1.      Untuk Pengurus dan Nasabah Bank Sampah Desa Trawas RW 03

Dalam pengembangan produk yang dihasilkan oleh program bank sampah seperti produk Trashion sebaiknya lebih memperhatikan kualitas produk dan mengembangan desain yang lebih bervariatif.

2.      Untuk LSM Wi-Hasta

Sebagai LSM pendamping lebih berperan pada pembuka jalan untuk mempromosikan produk dari hasil pemberdayaan melalui program Bank Sampah, salah satunya yakni produk Trashion, serta memberikan pelatihan kepada pengurus dan nasabah Bank Sampah untuk mengembangkan kreatiftasnya dan melatih kemandirian dalam mengelola suatu produk.

3.      Untuk Pemerintah Desa

saran untuk pemerintah desa adalah untuk lebih memperhatikan kebutuhan desa dan ikut berpartisipasi serta mendukung kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan khususnya pada pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh RW 03 melalui program bank sampah.

DAFTAR PUSTAKA

Fakih, Mansour. 2009. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta : InsistPress.

 

Hastuti dan Dyah Restapati. 2009. “Model Pemberdayaan Perempuan Miskin Berbasis Pemanfaatan Sumberdaya Pedesaan Upaya Pengentasan Kemiskinan di Pedesaan (Studi di Lereng Merapi Daerah Istimewa Jogyakarta)”. Jogyakarta : Universitas Negeri Jogyakarta

 

Lilly Rochaya. 2005. Model Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan Keterampilan Kewirausahaan Dengan Bimbingan Dalam Pengembangan Kerajinan Tangan Payette Pada Majelis Ta’lim Perempuan Parung-Bogor.  Jurnal : Anggota Organisasi Wanita Islam Internasional.

Moleong, Lexi J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosadakarya.

Soetomo. 2011. Pemberdayaan Masyarakat Mungkinkah Muncul Antitesisnya?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : CV Alfabeta.

TAGS

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Terkini

February 13, 2026

Populer

Playfina Bonuses and Promotions for New Zealand Players

Playfina runs a rich portfolio of bonuses and promotions tailored to players in New Zealand, combining multi-stage welcome packages, weekday free spins, weekly rakeback and monthly cashback offers. The site highlights large welcome stages with tiered deposit thresholds, explicit wagering multipliers and specified free spin destinations to give Kiwi players clarity before they opt in. Geared toward transparency, Playfina lists max bet limits and activation codes directly in the bonus descriptions so players can assess odds and compliance. For quick access and to verify current promotions visit https://playfinacasino.co.com/ and check the Promotions page for live offers and promo codes.

The welcome series at Playfina typically spans multiple deposits with percent matches and free spins for popular slots like Gold Rush with Johnny Cash and Elvis Frog TRUEWAYS. Standard wagering rules often apply - most deposit bonuses require 40x wagering on the bonus or on deposit plus bonus depending on the campaign. Free spin packs are delivered in batches for several days and expire within a seven day validity window after activation. Playfina enforces a strict max bet when a bonus is active - the NZD equivalent is commonly set near 8.5 NZD per spin or bet - and KYC verification may be required before withdrawals are processed.

Bonus type Key terms Min deposit
First deposit match 100% up to 300 EUR - x40 wagering 20 EUR / 20 USD / 20 NZD
Weekday free spins 50-500 FS depending on deposit - activate within 3 days 20 EUR / 20 NZD
High Roller VIP Up to 50% for deposits from 1,000 EUR - contact VIP 1,000 EUR

Playfina encourages responsible play and makes bonus rules explicit to prevent abuse - only one bonus can be active at a time and betting above the stated max when a bonus is active risks forfeiture of winnings. New Zealand players should read Bonus Terms and Conditions, note excluded games and track expiry timelines. For bespoke offers reach out to the VIP manager or support email, complete KYC to unlock larger bonuses and faster withdrawals, and follow activation steps carefully to ensure eligible promotions are credited and usable for genuine gaming enjoyment.

Reblz mobile gaming and app features for Sweden

Reblz delivers a modern mobile-first experience tailored to Swedish players who want fast, secure casino and sportsbook access on smartphones and tablets. The responsive website loads quickly in mobile browsers, with instant deposits via popular local and international methods, compact navigation, and clear menus that prioritise games, cashier functions and live chat. Players in Sweden will appreciate simplified registration flows, verification prompts optimised for mobile uploads, and accessible responsible gaming tools like deposit limits and session time reminders. Reblz also emphasises encryption and server location within the European Union to reassure users about privacy and data protection when gaming on public or home networks.

Mobile performance extends to game compatibility and Reblz supports dozens of leading providers optimised for touch controls and vertical play. Fast loading slots and adaptive live dealer streams reduce buffering for Swedish connections while maintaining high visual quality. Account security features like two-step verification options, secure payments and quick deposit limits let players manage risk directly from the app-style website interface. For more details and to try the mobile lobby on your device visit Reblz seamlessly where platform specifics, supported payment methods and regional promotions for Sweden are outlined clearly. Customer support via live chat is available 24/7 for mobile users.

Feature overviewBenefitSweden tip
CompatibilityTouch controls and fast loadRecommended for mobile data plans
PaymentsInstant deposits, varied methodsUse local cards or e-wallets securely
Support24/7 live chat and emailSwedish players get English support

Swedish players who prioritise on-the-go play will find Reblz mobile experience practical and secure, with easy deposits, speedy withdrawals for verified accounts and built-in protections like deposit limits and reality checks to promote responsible gaming. To maximise performance use a stable Wi-Fi connection or a generous mobile data plan, keep browser caches cleared, and complete KYC before first withdrawal to speed payouts. Remember the minimum deposit rules and bonus wagering limits when claiming promotions on mobile, and contact 24/7 live chat for any device-specific issue or verification help to keep sessions smooth and compliant with local regulations and enjoy playing

Bonuses and promotions at Reblz for Norway players

Reblz offers a competitive suite of bonuses and promotions tailored for Norway players, combining generous welcome packages with ongoing reloads, free spins and cashback deals. New players can expect tiered welcome rewards that include deposit matches, hundreds of free spins and a weekly cashback feature designed to soften losses. Terms and wagering vary by promotion so Norwegian customers should review bonus rules, min deposit limits, max bet restrictions and wagering multipliers before claiming any offer. For direct access to official campaign pages and latest promotional details visit the site here: https://reblzcasino.eu.com/ Be aware of expiry windows, contribution rates and max conversion caps when planning your strategy.

Understanding Reblz bonus mechanics helps you pick value promotions - most casino welcome offers carry a 25x wagering requirement applied to the deposit plus bonus, and free spin winnings often have no wagering but carry withdrawal caps. Minimum deposit thresholds typically start at €20 or 200 NOK while max bet limits during active bonuses are restricted to €5 or 50 NOK per spin. Cashback promotions usually require a qualifying deposit and active marketing consent and are subject to a 1x wager on Bonus Games before conversion to cash. Always verify country specific exclusions, game contribution tables and expiry timings to avoid forfeiting bonuses or triggering processing fees.

Promotion Wagering Min deposit
Welcome package 25x deposit+bonus €20 / 200 NOK
Free Spins Usually 0x wagering - winnings capped Varies by promo
Cashback weekly 1x wagering on Bonus Games Up to €5,000 cap

Norway players should treat promotions at Reblz as tools to extend play rather than guaranteed profit - plan bankrolls, respect max bet rules and track wagering progress regularly. If terms are unclear contact 24/7 support by live chat or email to resolve eligibility questions, document requests or bonus disputes quickly. Remember deposit and withdrawal rules can affect bonus eligibility and processing fees may apply for unused deposits. Staying informed about expiry windows, contribution tables and country specific limits will help Norwegian customers make better choices and enjoy a safer gambling experience on the platform.

Richmoose bonuses and promotions - UK guide

Richmoose offers a competitive range of bonuses and promotions tailored for United Kingdom players, combining welcome packages, regular reloads and targeted seasonal campaigns. New customers can usually expect a casino welcome bonus with free spins and a deposit match, while existing members benefit from cashback, free spins drops and reload rewards. Each promotion carries clear wagering rules, often 25x on deposit plus bonus for casino offers, with a minimum deposit threshold and a maximum bet limit while wagering requirements are active. Responsible gaming measures and eligibility checks are enforced, including verification and payment method restrictions that affect bonus eligibility. Visit https://Richmoose.eu.com/ for full terms and current offers.

For UK players it is vital to read promotional-specific terms before claiming any Richmoose bonus because eligibility, game contributions and expiry differ between offers. Most casino promotions require a minimum deposit of €20 or currency equivalent and set a maximum bet of €5 while wagering requirements are active. Wagering deadlines are strict - typically 48 hours to complete wagering after claiming, and many bonuses must be used within 72 hours once issued. Some payment methods such as Neteller, Skrill and Paysafe Card are excluded from casino deposit bonuses, so choose an eligible method. Cashback offers carry a low 1x wagering requirement and loyalty tiers increase the cashback rate up to 15%. Check campaign pages regularly for updated provider exclusions daily.

Promotion type Key terms UK notes
Welcome bonus 25x wager deposit+bonus Min deposit €20, max bet €5 while wagering
Free spins No wagering by default, 7 day validity Winnings capped €5,000
Cashback 1x wagering, weekly cap €5,000 Loyalty boosts to 10-15%

Choosing the right Richmoose promotion means checking eligibility, payment rules and wagering timelines before you commit funds. Always verify your account promptly to avoid withdrawal delays and be aware of KYC thresholds that may trigger document requests once deposits reach certain limits. If you need help interpreting bonus terms or disputing a promotion outcome, UK players can use 24/7 live chat or email support for clarification. Remember to enable sensible play settings and set deposit limits to enjoy promotions responsibly and preserve your gaming budget while maximizing the value of offers.