Dalam kitab Arbain Nawawi, hadits ke-24 berbunyi:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi…” (HR. Muslim).
Hadits ini mengajarkan konsep tauhid yang kuat, bahwa hanya Allah SWT tempat bergantung dan meminta segala sesuatu. Terdapat tiga poin utama yang dapat diambil dari hadits ini:
Pertama, kezaliman adalah perbuatan yang dilarang keras dalam Islam. Allah SWT telah mengharamkan kezaliman bagi diri-Nya dan melarang manusia untuk berbuat zhalim terhadap sesama. Beberapa bentuk kezaliman yang harus dihindari seperti zhalim terhadap diri sendiri dengan meninggalkan kewajiban agama atau melakukan maksiat, zhalim terhadap orang lain dengan mengambil hak mereka secara tidak adil, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, dan zhalim dalam hubungan dengan Allah SWT dengan melakukan kesyirikan, karena menyekutukan Allah merupakan bentuk kezaliman terbesar (QS. Luqman: 13).
Orang yang berbuat zhalim akan menghadapi akibat buruk di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, setiap Muslim harus senantiasa berlaku adil dan menghindari perbuatan yang merugikan orang lain.
selanjutnya, dalam kehidupan, manusia membutuhkan petunjuk untuk berjalan di jalan yang benar. Hadits ini mengingatkan bahwa sumber petunjuk sejati hanyalah dari Allah SWT. Dalam QS. Al-Fatihah: 6, kita diperintahkan untuk berdoa:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Meminta petunjuk kepada selain Allah, seperti dukun atau ramalan, merupakan bentuk penyimpangan yang bertentangan dengan tauhid. Oleh karena itu, seorang Muslim harus selalu berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT dalam mencari kebenaran dan jalan yang lurus.
Terakhir, Allah SWT adalah satu-satunya tempat bergantung dan meminta segala kebutuhan. Dalam hadits qudsi ini, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk hanya bergantung kepada-Nya. Hal ini diperkuat dalam QS. Al-Ikhlas: 2:
“Allah adalah tempat bergantung.”
Manusia memiliki berbagai kebutuhan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Islam mengajarkan agar semua permintaan disampaikan hanya kepada Allah melalui doa dan ibadah. Bahkan, dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Meminta pertolongan kepada selain Allah dalam hal-hal yang berada di luar kuasa makhluk adalah bentuk kesyirikan yang harus dihindari.
Hadits ke-24 dalam Arbain Nawawi mengajarkan prinsip penting dalam kehidupan Muslim, yaitu larangan berbuat zhalim, kewajiban meminta petunjuk hanya kepada Allah, dan keharusan untuk menggantungkan segala kebutuhan kepada-Nya. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran ini, seorang Muslim dapat menjalani hidup dengan penuh keimanan, ketakwaan, dan ketenangan, karena menyadari bahwa hanya Allah SWT tempat bergantung yang sejati. Semoga kita semua termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bertawakal dan senantiasa berpegang teguh pada petunjuk-Nya. Aamiin.