Juli 23, 2026 15:58

ORANG TUA ADALAH SUMBER MATA AIR
July 23, 2026

Penulis :

MULYADI,S.Pd.I
Unit/jenjang YACT

“Sebelum sibuk memperbaiki anak, perbaikilah terlebih dahulu sumber tempat anak belajar setiap hari.”

Dalam kitab Kaifa Turabbi Abnā’aka, Syaikh Dr. Muhammad ad-Dausari mengingatkan bahwa banyak orang tua mudah menyalahkan anak ketika melihat perilaku yang kurang baik. Padahal sering kali masalah pada anak tidak muncul begitu saja, tetapi tumbuh dari lingkungan yang mereka lihat dan rasakan setiap hari.

Karena itu, sebelum menyalahkan anak, orang tua perlu bermuhasabah. Bisa jadi anak sedang menampilkan apa yang selama ini ia pelajari dari rumahnya.

Orang tua adalah sumber utama bagi anak. Jika sumber itu jernih, maka yang mengalir darinya pun akan baik. Namun jika rumah dipenuhi bentakan, kemarahan, celaan, dan konflik yang berkepanjangan, maka hal itu akan memengaruhi cara berpikir dan perilaku anak.

Anak belajar bukan hanya dari nasihat yang didengar, tetapi terutama dari keteladanan yang dilihat. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua berbicara, mengelola emosi, memperlakukan pasangan, dan menghadapi masalah.

Karena itu, mendidik dengan teladan jauh lebih kuat daripada sekadar memberi nasihat.

Syaikh menjelaskan bahwa ada tiga bekal penting yang harus dimiliki orang tua dalam mendidik anak.

Pertama, rifq (kelemahlembutan). Dengan kelembutan, anak merasa aman dan lebih mudah menerima arahan.

Kedua, hilm (santun dan mampu menahan emosi). Orang tua tidak mudah marah atau bereaksi berlebihan ketika menghadapi kesalahan anak.

Ketiga, sabr (kesabaran). Mendidik anak adalah proses panjang yang membutuhkan pengulangan, ketekunan, dan kesabaran yang terus-menerus.

Beliau juga mengingatkan bahwa ilmu parenting tidak cukup hanya diketahui. Banyak orang tua telah membaca buku, mengikuti kajian, dan mendengar nasihat tentang pendidikan anak. Namun ilmu tidak akan bermanfaat jika tidak diamalkan.

Perubahan dalam keluarga dimulai ketika orang tua berani memperbaiki dirinya sendiri. Menjadi lebih lembut, lebih sabar, lebih banyak mendengar, dan lebih hadir dalam kehidupan anak.

Kabar baiknya, mendidik anak tidak sesulit yang dibayangkan. Orang tua tidak dituntut menjadi sempurna. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk terus belajar, memperbaiki kesalahan, dan tidak berputus asa.

Dalam kitab ini, Syaikh juga menyebutkan bahwa para pendidik yang berhasil umumnya memiliki beberapa kebiasaan yang sama. Mereka mencintai anak-anaknya dan menampakkan cinta itu. Mereka mendoakan anak-anaknya, memberikan penghargaan, membangun kepercayaan, serta memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.

Anak yang merasa dicintai akan lebih mudah diarahkan. Anak yang merasa dipercaya akan tumbuh lebih bertanggung jawab. Dan anak yang dihargai akan memiliki kepercayaan diri yang sehat.

Pada akhirnya, pendidikan anak bukan hanya tentang memperbaiki perilaku anak, tetapi juga tentang memperbaiki diri orang tua. Sebab anak adalah cermin yang sering kali memantulkan apa yang ia lihat setiap hari.

Maka jika kita ingin melihat akhlak yang baik pada anak, mulailah dengan menghadirkan akhlak yang baik dalam diri kita. Karena orang tua adalah sumber mata air, dan kualitas anak yang tumbuh sering kali sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber tersebut.

Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang terus belajar, memperbaiki diri, dan mampu menjadi teladan terbaik bagi anak-anak yang Allah titipkan kepada kita.

 

TAGS

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Terkini

July 23, 2026

Populer